DARURAT SAMPAH !!!

DARURAT SAMPAH !!!

Pembahasan

Salah satu permasalahan yang dihadapi pengelola perkotaan di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah pengelolaan sampah. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, taraf kehidupan penduduk juga meningkat. Pertumbuhan ekonomi ditunjukkan dengan peningkatan kegiatan produksi dan konsumsi. Peningkatan kegiatan produksi dan konsumsi akan berdampak pada peningkatan jumlah, jenis, dan keberagaman karakteristik timbunan sampah yang berakibatkan banyak permasalahan yang akan muncul berdasarkan pertambahan dan keberagaman karakteristik sampah tersebut.

1

Di banyak negara, sampah seringkali menimbulkan permasalahan. Penanganan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan mengganggu estetika. Penumpukan sampah atau pembuangan sampah sembarangan ke kawasan terbuka akan mengakibatkan pencemaran tanah yang juga berdampak ke saluran air tanah. Sedangkan pembakaran sampah akan mengakibatkan pencemaran udara. Pembuangan sampah ke sungai juga mengakibatkan pencemaran air, dan tersumbatnya saluran air yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan, pencemaran bau dan gangguan estetika. Lebih jauh lagi, penanganan sampah yang tidak komprehensif akan memicu masalah-masalah sosial, seperti amuk masa, bentrok antarwarga, pemblokiran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan lain-lain.

Di Indonesia, permasalahan sampah sudah sangat mengkhawatirkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di www.sciencemag.org pada Februari tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara peringkat kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Menurut riset Greeneration, organisasi non-pemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun (Buletin Cipta Karya, Februari 2016).

Dalam Statistik Persampahan Indonesia (2008) disebutkan bahwa dari total populasi Indonesia sebesar 232,8 juta orang, total sampah yang dihasilkan sebesar 38,5 juta ton/tahun, sedangkan populasi yang dapat dilayani sebesar 130,4 juta. Pengangkutan sampah aktual sebesar 21,72 ton per tahun, dan sampah yang tidak terangkut sebesar 16,78 juta ton per tahun. Untuk Pulau Jawa, dengan populasi sebesar 137,2 juta orang, menghasilkan total sampah sebesar 21,2 juta ton/tahun, sedangkan populasi yang dapat dilayani sebesar 80,8 juta. Pengangkutan sampah aktual sebesar 12,49 ton per tahun, dan sampah yang tidak terangkut sebesar 8,71 juta ton per tahun. Di tingkat dunia, masing-masing kota setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahunnya. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton (Buletin Cipta Karya, Februari 2016).

Penanganan sampah di masing-masing negara berbeda-beda tergantung dari kondisi sosial budaya masyarakat setempat, kebijakan pemerintah, regulasi, infrastruktur yang dimiliki, pendekatan teknologi, dan lain-lain.

2

Pemerintah sendiri telah mengurus mengenai sampah dalan UU RI Nomor 18 tahun 2008 mengenai pengolahan sampah. Dalam undang-undang tersebut telah terbahas seluruh kegiatan yang mengenai pengolahan sampah mulai dari peran pemerintah, peran masyarakat maupun peran lainnya yang bertanggung jawab dalam pengolahan sampah. Untuk menciptakan penanganan sampah yang baik perlu pengertian dan pemahaman dari seluruh pihak untuk mewujudkan penanganan sampah yang lebih baik.

Untuk pengolahan sampah bisa kita lihat dari Negara swedia. wedia sendiri dianggap sebagai pemimpin global dalam pengelolaan limbah berkelanjutan dan pengurangan jejak karbon per kapita. Negara ini secara konsisten bekerja untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, meningkatkan efisiensi energi dan meningkatkan kesadaran publik. Selama 10 tahun terakhir, Swedia mengembangkan metode repurposing limbah (repurposing waste) atau menggunakan kembali barang yang ada untuk didaur ulang, sehingga kurang dari satu persen dari total limbah yang dihasilkan di negara tersebut dibuang ke tempat pembuangan sampah.

3

Untuk mencapai hal ini, Swedia mengubah perspektif mereka tentang sampah. Dari 4,4 juta ton limbah rumah tangga yang diproduksi oleh negara setiap tahun, 2,2 juta dikonversi menjadi energi dengan proses yang disebut Waste-to-Energy (WTE). Sebelum proses ini dimulai, pemilik rumah dan pemilik usaha menyaring dan memisahkan limbah menjadi limbah berbahaya dan bahan yang dapat didaur ulang, yang kemudian dikirim ke sistem pengelolaan limbah yang berbeda, seperti insinerator dan daur ulang, dan sejumlah kecil ke tempat pembuangan akhir.

Tungku di pabrik WTE diisi dengan sampah, dan kemudian dibakar untuk menghasilkan uap yang selanjutnya digunakan untuk memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Limbah yang didaur ulang pada dasarnya digunakan sebagai sumber daya, diubah menjadi pemanasan distrik, listrik, biogas, dan pupuk hayati. uap panas ini juga yang dipakai untuk pembangkit tenaga listrik yang mampu mencukupi kebutuhan panas 950.000 rumah tangga dan memasok listrik bagi 260.000 rumah di seluruh negara Swedia. Hukum di Swedia juga membuat produsen limbah bertanggung jawab untuk menangani semua biaya yang terkait dengan pengumpulan dan daur ulang atau pembuangan produk mereka.

Pada tahun 1975, hanya 38% limbah rumah tangga yang didaur ulang di Swedia, tetapi sekarang Swedia memiliki misi untuk mencapai zero waste di masa depan yaitu pada tahun 2020.  Sistem WTE yang digunakan Swedia memang tidak sempurna, penerapannya bisa sangat mahal dan dikenal  mengeluarkan polutan lingkungan. Tapi, sistem WTE  ini juga terus berkembang, didukung oleh penemuan teknologi baru yang memungkinkan WTE untuk mengurangi dampak lingkungan. Sistem pengelolaan sampah Swedia telah mengubahnya menjadi pemimpin global, dan memulihkan lebih banyak energi dari setiap ton limbah daripada negara lain, menurut Cleantech Swedia.

Bahkan, Swedia telah sangat maju dalam pengelolaan limbah sehingga perlu mengimpor hampir 800.000 ton limbah dari negara-negara seperti Inggris, Norwegia, Italia, dan Irlandia untuk memberi makan 32 pabrik WTE. Dengan tidak membuang limbah dan mendaur ulang 99% dari limbah tersebut, Swedia sedang dalam perjalanan untuk mencapai misi nol limbah dan energi berkelanjutan pada 2020.

Generasi muda Indonesia pun banyak yang menawarkan inovasi-inovasi nya mengenai pengolahan sampah yang invotif dan mendunia akan hal tersebut.

  1. Mallsampah

4

Mallsampah merupakan startup asal Makassar yang berdiri sejak 2015 dan kini sudah menjadi perseroan terbatas. Cara kerja Mallsampah ini adalah menengahi penghasil sampah, baik sampah rumah tangga ataupun kantor, untuk kemudian diperjualbelikan kepada pengepul atau pemulung. Melalui platform ini, masyarakat juga dapat membeli produk-produk yang ramah lingkungan.

  1. Dispenser Mas Eco

5

Sesuai namanya, Dispenser Mas Eco merupakan dispenser pintar yang telah dirancang dengan memiliki sistem komputerisasi. Meski masih bersifat prototipe, Dede Nurdiansya, selaku inovator berencana agar Dispenser Mas Eco dapat ditemui di titik-titik keramaian sehingga mendorong masyarakat membawa kemasan minumnya sendiri dan terhindar dari masalah kehausan. Nantinya, Dispenser Mas Eco ini akan berfungsi hanya dengan menempelkan kartu uang elektronik.

 

  1. TOSS Listrik Kerakyatan

6

Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Listrik Kerakyatan merupakan program pengolahan limbah organik, seperti dedaunan, rumput, dan pepohonan yang kemudian akan dijadikan sumber energi ekonomi alternatif. Inovasi ini diciptakan oleh Pemda Klungkung yang bekerja sama dengan STT PLLN dan Indonesia Power. Tidak hanya itu, sampah organis yang berasal dari rumah tangga juga dapat disulap menjadi pakan ikan yang bisa diperjualbelikan.

  1. Gringgo

7

Satu lagi startup yang memiliki ide untuk pengelolaan sampah. Gringgo, yang telah berdiri sejak 2014 dan berbasis di Bali ini merupakan platform yang dapat menghubungkan masyarakat ke tempat pembuangan sampah terdekat agar mudah didaur ulang. Menariknya, dalam proses pengolahan sampah yang terjadi, baik penghasil sampah, pengumpul, ataupun pendaur ulang bisa menerima hadiah sesuai dengan keterangan yang terdapat pada aplikasi.

  1. Angkuts

8

Inovasi yang satu ini masih berhubungan dengan startup. Dengan nama Angkuts, startup asal Pontianak ini berfungsi untuk menyediakan layanan jasa pengangkutan sampah yang ditargetkan agar memudahkan masyarakat membuat sampah.

Angkuts dapat mengelola sampah yang terdapat di perumahan, restoran, hotel, kantor, bahkan tempat kost. Tidak hanya itu, pemilik sampah pun juga akan dihargai dengan aldo berupa tabungan dana pada aplikasi Angkuts.

  1. Sampah Muda

9

Sampah muda merupakan inovasi untuk menanggulangi sampah lainnya dalam bentuk startup. Prinsip kerja startup ini adalah menghubungkan pemilik sampah dengan pendaur ulang.

Uniknya, penyumbang sampah akan mendapat imbalan berupa trashpoint yang bisa ditukar menjadi gopay atau pulsa listrik. Adapun jenis sampah yang bisa kamu daur ulang dengan aplikasi ini antara lain, kertas, metal, logam, kaca, elektronik, plastik, bahkan minyak jelantah.

  1. Mobil bahan bakar limbah plastik

10

Mobil bahan bakar limbah plastik ini merupakan inovasi teknologi yang diciptakan oleh mahasiswa UGM Yogyakarta dan menjadi juara dunia lomba inovasi teknologi yang diselenggarakan di London, Inggris. Menariknya, mobil berbahan bakar sampah ini tidak menggunakan gas untuk membakarnya.

Akan tetapi, mereka mengonversi sampah plastik sebagai bahan bakar tersebut dengan menggunakan gas buangan knalpot. Selain itu, teknologi ini juga memiliki alat penyerap karbondioksida dari knalpot sehingga dapat benar-benar menekan polusi.

Arahan

  1. Menghimbau seluruh masyarakat untuk membuang sampah ke tempat nya dalam rangka membangun kota yang bersih dan sehat
  2. Untuk mengurangi sampah plastik botol dengan menggunakan botol minum khusus /tumbler
  3. Dalam melakukan pengolahan sampah disarankan untuk mengikuti peraturan yang telah ditetapkan guna membangun sistem pengolahan sampah yang terarah dan efisien
  4. Menjaga tempat pariwisata disetiap daerah nya dari limbah plastik untuk menjaga keindahan serta menjaga ekosistem yang ada didalam nya
  5. Menjaga semua fasilitas publik dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan dan jika menemukan sampah tolong diambil dan dimasukkan ke tempat sampah terdekat
  6. Mengurangi pemakaian sedotan guna menurunkan angka limbah plastik yang dikonsumsi masyarakat
  7. Menciptakan inovasi-inovasi terbaru untuk mengurangi sampah

Refernsi :

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 2016. Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Persampahan di Indonesia dalam rangka Waste to Energy. Bahan Informasi pada rapat terbatas dengan Presiden RI tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah dan Percepatan Pembangunan Listrik Berbasis Sampah.

“Pengantar Sistem Pengelolaan Sampah (Aspek Teknis Operasional)” dari: http://www.slideshare. net/metrosanita/pengelolaan-sampah-3-teknisoperasional, diakses tanggal 18 Agustus 2019.

Permen PU No. 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

“7 Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah Mendunia Ini Buatan Indonesia” dari https://www.idntimes.com/tech/trend/m-tarmizi-murdianto/inovasi-teknologi-pengolahan-sampah-buatan-indonesia/full. Diakses tanggal 20 agustus 2019.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *