SADAR 3R

PENDAHULUAN

Pendekatan pengelolaan sampah seyogyanya dilakukan melalui pendekatan berbasis 3R dan berbasis masyarakat, pengelolaan sampah secara terpadu dengan melaksanakan pengelolaan sejak dari sumbernya. 3R adalah upaya yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle). Sesuai dengan yang diamanatkan di dalam UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan sampah pada Bab I pasal 1 ayat 3 bahwa pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang sistematis, berkelanjutan yang terdiri dari kegiatan pengurangan dan penanganan. Proses pengurangan merupakan upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang akan diangkut dan diproses di tempat pemrosesan akhir sampah. Pendekatan pengelolaan sampah seyogyanya dilakukan melalui pendekatan berbasis 3R dan berbasis masyarakat, pengelolaan sampah secara terpadu dengan melaksanakan pengelolaan sejak dari sumbernya. 3R adalah upaya yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle). Kegiatan Pengurangan sampah dapat berupa pembatasan timbulan sampah, pendaurulangan sampah, dan pemanfaatan kembali sampah, dimana proses pemilahan merupakan kegiatan penunjangan pokok dari proses pendaurulangan. Kegiatan Penanganan Pemilahan sesuai dengan jenis dan sifatnya, Pengumpulan dari sumber Ke TPS, Pengangkutan dari sumber ke tempat pemrosesan. Berbagai sistem daur ulang dapat diaplikasikan, karena komposisi sampah terbesar di kotakota di Indonesia sebagian besar adalah sampah organik, maka diperkenalkan sistem pengomposan skala individual, komunal, kawasan, baik untuk daerah air tanah tinggi( daerah basah ) maupun untuk air tanah rendah. Sedangkan untuk pemanfaatan kembali sampah baik organik maupun anorganik diperkenalkan contoh yang dapat diaplikasikan serta diperkenalkannya bank sampah. Untuk pengurangan sampah diperkenalkan teknikteknik sederhana seperti mengurangi kemasan, kembali pada pembungkus yang dapat terdegradasi. Untuk itu pengelolaan sampah sistem 3 R (reduse, reuse, recycle), melalui pengumpulan, pemilahan, pengelolaan sampah oleh masyarakat harus terus digalakan.

 

PEMBAHASAN

Mengedepankan paradigma 3R (R1=reduce, R2=reuse,R3= recycle). R1 Adalah upaya yang lebih menitikberatkan pada pengurangan pola hidup konsumtif serta senantiasa menggunakan “tidak sekali pakai“ yang ramah lingkungan dan mencegah timbulan sampah, R2 adalah upaya memanfaatkan bahan sampah melalui penggunaan yang berulang agar tidak langsung menjadi sampah, tanpa pengolahan berarti menggunakan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. R3 adalah setelah sampah harus keluar dari lingkungan rumah perlu dilakukan pemilahan dan pemanfaatan pengolahan secara setempat menjadi produk baru. Pengelolaan sampah dengan pola 3R merupakan upaya untuk mengurangi beban TPA (tempat pemrosesan akhir) sampah. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pola 3R, perlu dioptimalkan di dalam penerapannya karena program ini berkaitan dengan kebijakan dan strategi nasional pengembangan pengelolaan persampahan terutama berkaitan dengan kebijakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya, sesuai yang diamatkan dalam UU No 18 Tahun 2008, tentang Pengelolaan Sampah dan Permen PU No 21/PRT/M/2006, tentang kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Persampahan. Upaya kegiatan 3R membutuhkan partisipasi aktif seluruh stakeholders yang terkait dengan masalah persampahan. Mengingat upaya pengurangan volume sampah di sumber sangat erat kaitannya dengan perilaku masyarakat, diperlukan suatu upaya penyadaran dan peningkatan pemahaman untuk mendorong perubahan perilaku yang dilakukan secara berjenjang, baik melalui promosi atau diseminasi maupun kampanye yang terus menerus. Desiminasi dan sosialisasi penanganan 3R menjadi sangat penting dalam pengelolaan sampah, perlu dilakukan terus-menerus kepada setiap strata lapisan masyarakat baik secara individu maupun kelompok, dengan menggunakan bahasa, sarana-prasarana dan media yang sesuai dengan target kelompok yang dituju. Upaya pengurangan sampah di sumber perlu didukung dengan pemberian insentif yang dapat mendorong masyarakat untuk senantiasa melakukan kegiatan 3R, antara lain dalam bentuk pengurangan retribusi sampah, pemberian kupon pengganti kantong plastik, penghargaan tingkat kelurahan, dll, yang diawali dengan kesiapan pengelolaan sampah kota yang memadai. Dalam Teknik operasional pengelolaan sampah mulai dari sumber sampah sampai pemrosesan akhir , program 3 R perlu dilaksanakan semaksimal mungkin di sumber

l ll

R ke-1 (REDUCE): adalah upaya untuk mengurangi volume sampah sebelum dan sesudah diproduksi misalnya (i) memperbanyak teknik isi ulang (refill) air minum, tinta, dll sehingga mengurangi produksi tempatnya, (ii) memperbanyak pemakaian bungkus yang mudah terdegradasi seperti daun, kertas dll (iii) membakar sampah kering (iv) mengurangi produksi kemasan, dll. Konsep ini merupakan penjabaran dari konsep produksi bersih yang arahnya pencegahan. Produsen barang maupun anggota keluarga dapat berperan melakukan teknologi ini. Reduce ini merupakan upaya mengurangi timbulan sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan dengan cara merubah pola hidup konsumtif, yaitu merubah kebiasaan boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi hemat/efisien dan sedikit sampah.

R ke-2 (RE-USE): adalah upaya untuk memakai kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah secara langsung tanpa mengolahnya terlebih dahulu, misalnya (i) ember bekas menjadi pot bunga, (ii) botol terbuat dari plastik atau gelas menjadi tempat bumbu, (iii) koran menjadi pembungkus, dll. Anggota keluarga dapat berperan melakukan kegiatan ini.

R ke-3 (Recycle) – menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam waktu tertentu : adalah upaya memanfaatkan kembali sampah melalui daur ulang setelah melalui proses pengolahan tertentu, misalnya (i) sampah dapur diolah menjadi pupuk kompos, (ii) pecahan beling diolah kembali menjadi gelas, piring dll (iii) potongan plastik diolah menjadi ember, gayung, sandal dll, (iv) lempengan kaleng diolah menjadi kaleng dll. Pengumpulan bahan baku di sumbernya (on-site) dapat dilakukan oleh rumah tangga penghasil sampah sedangkan di luar sumbernya misalnya di tempat pengumpulan sampah sementara (TPSS) atau di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah dapat dilakukan oleh pemulung atau pengelola sampah. Proses daur ulang dapat dilakukan oleh industri rumah tangga maupun industri manufaktur. Dalam pendukungan penerapan 3R Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan hal-hal sebagai berikut : – memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan

– memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan

– memfasilitasi kegiatan mengguna-ulang dan mendaur ulang dan

– memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang

Kegunaan mengenal jenis dan karakteristik sampah adalah sebagai dasar untuk menentukan cara pengelolaan atau pengolahan sampah. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah yang dikelola terdiri atas: a. sampah rumah tangga; b. sampah sejenis sampah rumah tangga; dan c. sampah spesifik. Sampah rumah tangga berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah spesifik meliputi:

  1. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;
  2. sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;
  3. sampah yang timbul akibat bencana;
  4. puing bongkaran bangunan;
  5. sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau
  6. sampah yang timbul secara tidak periodik.

Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis sampah spesifik diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup. Karakteristik sampah dalam pengelolaan sampah berbasis 3 dibedakan atas :

  1. Sampah organik Sampah organik atau sampah basah atau sampah hayati adalah jenis sampah yang berasal dari jasad hidup sehingga mudah membusuk dan dapat hancur secara alami. Contohnya adalah sampah sisa dapur, daun-daunan, sayur-sayuran, buah-buahan, daging, ikan, nasi, dan potongan rumput/ daun/ ranting dari kebun.
  2. Sampah An-Organik Sampah anorganik atau sampah kering atau sampah non-hayati adalah sampah yang sukar atau tidak dapat membusuk, merupakan sampah yang tersusun dari senyawa non-organik yang berasal dari sumber daya alam tidak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Contohnya adalah botol gelas, plastik, tas plastik, kaleng, dan logam. Sebagian sampah non-organik tidak dapat diuraikan oleh alam sama sekali, dan sebagian lain dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Mengolah sampah non-organik erat hubungannya dengan penghematan sumber daya alam yang digunakan untuk membuat bahan-bahan tersebut dan pengurangan polusi akibat proses produksinya di dalam pabrik. Umur hancurnya berbagai jenis sampah di bawah ini dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat suatu kebijakan maupun strategi yang diambil didalam pengurangan sampah.
  3. 0000 000 00 0

Komposisi sampah mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat. Komposisi sampah di berbagai kota di Indonesia saat ini secara umum masih didominasi oleh sampah organik /basah (biodegradable) seperti terlihat dalam gambar

mm mmm

SOLUSI

Solusi dalam menangani masalah sampah dengan berbasis 3R salah satunya adalah menggnakan Komposter tanaman

o oo

Keterangan:

  • Siapkan lahan untuk penanaman komposter pada lokasi yang memungkinkan yaitu lokasi yang tersedia untuk pemasangan 2 buah komposter yang akan dioperasikan secara bergantian, terhindar dari curahan hujan yang secara langsung dapat masuk ke dalam komposter dan jarak komposter ke sumber air tanah dangkal minimal 10 m untuk menghindari pencemaran.
  • Gali tanah, dengan ukuran dan kedalaman galian sesuai dengan model dalam Petunjuk Teknis Spesifikasi Komposter Rumah Tangga Individual dan Komunal. Dasar komposter berada minimal 30 cm di atas muka air tanah. Muka air tanah dapat ditentukan berdasarkan muka air sumur di daerah sekitarnya pada musim kemarau.
  • Letakkan komposter di tengah galian tanah. Di dasar galian di pinggir dan di dalam komposter diisi dengan kerikil ukuran 1-2 cm setebal 10 cm.
  • Selimuti pipa gas dengan kerikil setebal 5 cm baru ditimbun dengan tanah asal.
  • Timbun komposter dengan tanah setebal 5 cm di bawah lubang pemasukan sampah.
  • Ketentuan pemasangan komposter ini sama, baik untuk komposter rumah tangga individual maupun komunal.

 

2) Cara Pengoperasian

  1. Penyiapan Sampah Dapur Siapkan sampah organik/ sampah basah yang sudah dipilah dalam wadah sampah organik atau pada kantong plastik yang telah dilubangi kedua ujungnya di dalam ember, tiriskan air yang terkandung pada sampah.

 

  1. Pemasukan Sampah
  • Masukkan sampah yang sudah ditiriskan ke dalam komposter pertama (tanpa kantong plastik) dan ratakan.
  • Lakukan pemasukan sampah secara rutin setiap hari sampai komposter penuh
  • Hentikan pemasukan sampah dapur pada komposter pertama yang telah penuh, ganti pemasukan sampah ke komposter kedua.

 

 

 

 

 

  1. Pematangan Kompos Setelah komposter pertama terisi penuh oleh sampah, biarkan sampah selama 4- 6 bulan agar terjadi proses pengomposan. Bila sampah telah berubah menjadi kompos yang ditandai dengan perubahan warna menjadi hitam seperti tanah, keluarkan kompos tersebut dengan menggunakan garu, sisakan kompos setebal 2 cm yang akan berfungsi sebagai starter untuk mempercepat pengomposan selanjutnya Kompos dianginkan selama 1 minggu untuk pendinginan di lokasi yang terhindar dari curah hujan. Kompos tersebut dapat digunakan sebagai penggembur tanah. Selanjutnya komposter pertama dapat menampung kembali sampah dapur. Ketentuan pengoperasian komposter ini sama, baik untuk komposter individual maupun komunal.

 

ARAHAN

  1. Mengurangi penggunaan sampah dengan membawa tempat makan atau minum sendiri
  2. Ikut serta dalam mencerdaskan masyarakat dalam menanggulangi permasalahan sampah
  3. Membuat inovasi-inovasi yang dapat menunjang dalam mengurangi sampah yang ada dilingkungan sekitar
  4. Mulai menerapkan mengenai pengolahan sampah berbasis 3R dilingkungan sekitar
  5. Paham dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai upaya pengurangan sampah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

Direktorat Jendral Cipta Karya Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Persampahan, Departemen Pekerjaan Umum, 2009

Laporan Akhir Penerapan Teknologi Pengolahan Sampah Kota Terpadu Berbasis 3R, Satker Puslitbangkim PU. 2008

Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan, Pedoman Teknis Puskim, 2001

Puslitbang Sebranmas, Konsep Panduan Pengelolaan Sampah Perumahan secara Partisipatif 2005

Satker Puslitbang Permukiman.,2009 Laporan Akhir, Penerapan Teknologi Pengelolaan Sampah Kota Terpadu Berbasis 3R., Satker Puslitbangkim PU

Spesifikasi Komposter Rumah Tangga Individual dan Komunal, SNI 19- 7029-2004

Tata Cara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Individual Dan Komunal Pedoman Teknis Puskim 2002

Undang-Undang Republik Indonesia no. 18 tahun 2008, Pengelolaan Sampah, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Lembaran Negara RI tahun 2008 no. 69, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *