Bring the Memories Vol.2 “Dirgahayu 72 RI” Spesial Karya terbaik 1 Program Merdeka

“PEMUDA YANG TERDIDIK, SOLUSI TERBAIK MENUJU INDONESIA EMAS 2045”

Tidak terasa 72 tahun sudah Indonesia merayakan Kemerdekaan. Setiap tahun nya tepat 17 Agustus masing-masing dari kita merayakan Kemerdekaan dengan berbagai macam ekspresi. Tapi bagaimana kah makna Kemerdekaan yang sesungguhnya? Saya rasa tiap dari kita memiliki definisi masing-masing terkait makna Merdeka. Teringat akan perjuangan bangsa Indonesia ketika menuju 1945, dimana makna Merdeka di definisikan sebagai Kebebasan untuk hidup bernegara dan berbangsa. Lepas dari jerat tirani dan penjajahan, dari kolonialisme yang tak berperikemanusiaan. Seiring berjalan nya waktu, pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki jiwa Nasionalisme semakin terdidik seolah menjadi Ujung tombak pergerakan bangsa Indonesia untuk bebas dari jeratan penjajah. Teringat akan sosok Ki Hajar Dewantara dengan semboyan nya yang sangat Indonesia yakni “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan” Atau sosok foundingfather yang di dalam jiwa nya penuh jobaran api semangat pemuda, Ir.Soekarno. Usia nya memang tidak lagi muda, namun semangat dan gagasan nya seolah mencerminkan semangat seorang Pemuda Indonesia yang siap mengguncangkan dunia. Belajar dan menuntut ilmu di Sekolah Asing tidak membuat nya cinta pada Asing. Di dalam dada nya hanya ada satu Negara, satu Bangsa dan satu Kebanggaan yakni Indonesia. Seorang Insinyur yang tidak lagi membangun sebuah bangunan di atas tanah. Namun lebih besar dari itu, membangun Negara di atas bumi Ciptaan Tuhan. Semua berkat mereka kaum terpelajar dan semangat Pemuda yang cinta akan Tanah Air nya.

Seiring berjalan nya waktu, tentu perkembangan Teknologi dan Informasi semakin berkembang. Dunia seakan tanpa batas yang di aliri arus Globalisasi. Sistem Pendidikan pun juga sudah seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Bisa kita lihat saat ini, Pendidikan di Indonesia lebih berorientasi kepada bagaimana meningkatkan kecerdasan, prestasi, keterampilan dan bagaimana menghadapi persaingan. Pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun mampu berpikir secara saintifik dan filosofis bukan semata-mata mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan namun juga mampu mengembangkan nilai-nilai religius. Pendidikan sekarang kehilangan misi utama nya untuk investasi karakter manusia. Pendidikan moral dan karakter bukan lagi merupakan faktor utama seorang anak mengenyam pendidikan. Kedua hal ini dianggap sudah menjadi tugas para tokoh agama dan orang tua di rumah. Sekolah saling berlomba menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda agar kaya semuda mungkin. Yang lebih epik pada zaman sekarang ini, setiap yayasan atau perusahaan swasta dapat mendirikan institusi pendidikan. Hal ini membuat misi utama sebuah institusi pendidikan tidak lagi murni untuk pelayanan sosial. Semua faktor di atas cukup berperan dalam membentuk pemuda dan manusia Indonesia ke depan nya. Yang tak lagi memiliki karakter kuat namun lebih berorientasi pada hal-hal prestis. Akibatnya, banyak dari kita yang akhirnya bekerja tidak sesuai hari nurani nya, mengedepankan profit dan menang dalam setiap persaingan.

Belum lama ini muncul sebuah gaungan yang menurut saya dapat menjadi motivasi kita khususnya pemuda Indonesia di zaman sekarang ini. Ya! “Generasi Emas Indonesia 2045”. Berbicara mengenai generasi emas, Kemendikbud telah mengangkat tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 lalu. Generasi Emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya dan berperadaban unggul. Bukan tanpa perhitungan dalam merumuskan cita-cita ini, dalam upaya mewujudkan generasi emas ini Indonesia di dukung dengan kondisi demografi dimana usia produktif paling tinggi di usia anak-anak dan orang tua. Dalam upaya menyongsong Indonesia Emas 2045 ini tentu di butuhkan komponen-komponen terbaik terutama guru yang terdidik. Karena pada hakikatnya, mendidik adalah tugas utama seorang yang terdidik. Peran Guru yang tidak hanya mengajar, tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2005, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo dalam pidato nya pada Hari Pramuka 2017 mengatakan, generasi pramuka saat ini kebanyakan di isi oleh adik-adik generasi milenial atau generasi Y, yang cara berpikirnya sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi adaptif dengan kemajuan teknologi, generasi yang sangat kreatif dan inovatif. Tentu hal ini membuat Indonesia harus mempersiapkan guru yang terdidik untuk mendidik generasi milenial nanti. Saya berharap, pemuda Indonesia sudah seharusnya peka terhadap perkembangan dan kemajuan zaman. Tidak lagi alergi terhadap globalisasi ataupun teknologi. Tetapi adaptif terhadap perkembangan zaman saat ini. Berkreasi dalam karya dan partisipatif terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan adalah kontribusi terbaik yang seharusnya para pemuda berikan untuk Indonesia. Selain itu, Sistem Pendidikan juga harus diperbaiki dan dimodifikasi sesuai kebutuhan Indonesia serta mengembalikan misi utama Pendidikan. Yang mana mencetak generasi Emas yang berkarakter, berakhlak mulia dan berjiwa sosial. Seperti hal nya sebuah istilah latin yang berbunyi “Non scholae sed vitae discimus” yang berarti kita belajar bukan untuk nilai sekolah, namun demi nilai kehidupan. Yang tentu mendapat manfaat ilmu yang bisa di pergunakan dalam hidup. Saya juga berharap Pendidikan harus di jadikan pilar utama kemajuan suatu bangsa dan menjadi prioritas pembangunan Indonesia. Bukan hanya merubah kurikulum dan sarana/pra sarana. Lebih dari itu, yaitu memperhatikan pembangunan Sumber Daya Manusia atau Guru yang akan  mengemban pendidikan tersebut. Pendidikan dan pemuda adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena dengan pendidikan yang bermutu dan berkualitas nanto nya akan mencetak Generasi Emas Indonesia yang siap bersinar dan menebar Inspirasi ke Seluruh Dunia.

Karya : Akbar Fitrah, Politeknik Negeri Jakarta

Juara 1, Essay Merdeka FKMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *