Bring the Memories Vol.2 “Dirgahayu 72 RI” Spesial Karya terbaik 2 Program Merdeka

REVITALISASI PEMDA (PERAN PEMUDA) MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA

Berbicara tentang pemuda berarti berbicara tentang semangat, harapan baru untuk masa depan bangsa yang cerah. Di tangan merekalah terletak baik dan buruknya suatu bangsa. Ketika pemudanya baik, maka baiklah bangsa itu, begitu pula dengan sebaliknya. Hal ini dapat kita cermati pada kalimat yang diungkapkan oleh  Presiden Soekarno “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” bukan tidak mungkin pada kalimat Bung Karno hanya membutuhkan sepuluh orang saja untuk bisa mengguncagkan dunia, karena didalam diri pemudalah terdapat semangat yang tinggi, ambisi, dan keberaniaan untuk bisa melakukan perubahan (agent of change) bagi bangsa Indonesia.

Pernyataan tersebut memang benar, karena sejarah telah mencatat bahwa pergerakan pemuda masa lalu yang mengawali setiap perjuangan, perubahan, dan arah pembangunan bangsa. Bahkan jika kita melihat jauh ke belakang, pemuda sebagaimana tercatat dalam sejarah. Diawali dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, Pergerakan Mahasiswa tahun 1966, hingga masa reformasi tahun 1998. Berdasarkan hal tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa pemuda merupakan aktor penting dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia, karena mereka berperan aktif menjadi garda terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan.

Lalu pertayaannya, apakah pemuda sekarang masih sama semagatnya dengan pemuda zaman dulu? Apakah ada perubahan atau mungkin malah sebaliknya? Bisakah generasi muda saat ini mewujudkan cita-cita bangsa yang belum terselesaikan? Agar terwujudnya bangsa Indonesia sebagai negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur?

Dilihat dari kondisi pemuda Indonesia saat ini, cenderung lebih pada tindakan hura-hura dan ikut-ikutan trend, supaya dikatakan kekinian dan tidak dibilang ketinggalan zaman. Adanya arus globalisasi, perkembangan teknologi dan westernisasi diduga sebagai penyebab utamanya. Pemuda-pemudi yang dulunya diunggul-unggulkan karena memiliki intelegensi sekarang tidak lagi mampu menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat. Tindakan-tindakan mereka yang tidak lagi mencerminkan insan yang beredukasi, menyebabkan fenomena kenakalan-kenakalan remaja, menjadi hal yang biasa dan tidak asing lagi di zaman sekarang.

Ada banyak jenis kenakalan remaja yang sekarang ini sedang marak terjadi. Berdasarkan data dari www.bkkbn.go.id, efek dari berbagai kenakalan remaja ini di antaranya yaitu: 1). Pernikahan di usia remaja (hal ini marak sekali terjadi, rata-rata remaja yang masih berstatus aktif sekolah); 2). Sex pra nikah dan kehamilan yang tidak dinginkan (perilaku seks bebas dan ketidak tahuan tentang penggunaan kondom memicu tingginya angka ini); 3). Aborsi, dari jumlah total 2,4 juta ternyata 700-800 ribu dilakukan oleh remaja; 4). Jumlah remaja yang meninggal sangat tinggi utamanya perempuan, 17 ribu per tahun, 1.417 per bulan, 47 per hari yang dikarenakan komplikasi kehamilan dan persalinan; 5). Jumlah penderita HIV/AIDS 1283, yang 70% dari keseluruhan penderitanya adalah dari kalangan remaja; 6). Miras dan narkoba yang semakin marak penggunanya. Angka-angka tersebut cukup mencengangkan, bagaimana tidak anak remaja yang masih muda, energik, potensial yang menjadi harapan orangtua, masyarakat dan bangsanya dapat terjerumus dalam limbah kenistaan.

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan adanya tindakan kenakalan remaja yaitu: 1). Kurangnya pendidikan agama, sehingga anak kehilangan pegangan nilai, yang kemudian superegonya kosong; 2). Kurangnya pengetahuan orang tua akan pendidikan; 3). Kurang teraturnya pengisian waktu luang; 4). Tidak stabilnya kondisi ekonomi, sosial dan politik; 5). Kemerosotan moral dan mental orang dewasa; 6). Banyaknya film dan bacaan yang kurang mendidik; 7). Pendidikan di sekolah yang kurang baik; 8). Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan moral anak kurang (Daradjat, 1985). Sampai kapan pemuda bangsa akan terus seperti ini?

Lantas kita sebagai pemuda setelah mengetahui berbagai kenyataan permasalahan pemuda bangsa kita hanya berdiam diri? Tidak. Jalan keluar yang bisa dilakukan adalah kita harus bergerak mengadakan perubahan. Pemuda sebagai pemuda yang memilki harapan baru untuk masa depan bangsa yang cerah, harus mampu berkontribusi aktif dalam membangun dan memajukan bangsa Indonesia. Dengan itu kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa yang belum terselesaikan sebagai negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kasus kenakalan remaja ini merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya dibebankan oleh salah satu pihak melainkan semua pihak ikut bertanggung jawab dalam permasalahan ini, dan bersinergi untuk bersama – sama menyelesaikan permasalahan kenakalan remaja yang semakin lama semakin meresahkan. Solusi untuk menyelesaikan kenakalan remaja diantaranya yaitu Pertama perbaikan pola asuh orang tua, karena pendidikan yang di rasakan pertama kali oleh setiap anak ialah pendidikan informal (keluarga). Kedua keadaan lingkungan sekitar, karena keadaan keluarga yang tidak harmonis dapat menjadikan sebab timbulnya kenakalan remaja. Ketiga, keberadaan pendidikan formal (sekolah) sebagai tempat ke-dua pembentukan anak setelah keluarganya. Keempat peran pendidikan nonformal disini untuk dijadikan sebuah solusi alternatif semisal seperti diajarkan tentang pendidikan karakter, pendidikan moral tata krama, nilai-nilai kejujuran dll. Kelima pendidikan agama harus dimulai sejak dini. Keenam pengaktifan kembali kegiatan kepemudaan di setiap desa selain mengisi waktu, mereka juga dapat menambah ketrampilan dalam dirinya.

Ayo pemuda sudah saatnya kita merubah pola pikir kita menjadi yang lebih bermoral, berkarakter, dan bisa membawa perubahan bagi bangsa. Sudah tidak eranya kita seperti itu terus-menerus. Pemuda bangsa kedepannya harus bisa membawa perubahan. Mengingat negara kita sudah bergabung dalam MEA, ASEAN, AFTA, WTO, APEC dll, selain itu pada tahun 2020 hingga 2030 sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia meningkat hingga mencapai 180 jiwa pada penduduk usia produktif (bonus demografi). Sangat disayangkan, kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal tentu saja akan rugi, karena hal ini jarang terjadi dan juga dalam menyongsong Indonesia Emas pada tahun  2045.

Kita benahi permasalahan yang ada di negara ini, seperti halnya kemiskinan, korupsi, penegak hukum yang lemah, pengolahan SDM dan SDA yang kurang maksimal, pengangguran, narkoba dan sejenisnya. Dengan adanya sebuah transformasi dan rekonstruksi mendasar dalam sistem pendidikan, diharapkan pemuda-pemuda kita saat ini dan mendatang bisa menjadi ujung tombak utama dalam membangun Indonesia yang lebih hebat, kuat, berdikari, dan menjadi bangsa yang memiliki identitas yang dilandasi oleh karakter bangsa yang kuat.

Karya : Joko Arifin, Politeknik Negeri Madiun

juara 2, Essay merdeka FKMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *